Wabah Corona Pada Ramadlan 1441, Sama Halnya Tho'un Di Zaman Rasulullah SAW

Foto : DR. Lia Istifhama,S.Sos, S.Hi,MEI., Ketua III STAI Taruna Surabaya
Selasa, 28 April 2020 | 13.00 WIB

SURABAYA, newspantau.com – Wabah Corona (Covid-19) yang terjadi sejak akhir tahun 2019 hingga saat ini, menjadi perhatian masyarakat luas di seluruh penjuru dunia. Bahkan menganalogikan wabah penyakit ini dengan kejadian yang pernah terjadi pada masa lalu.
 
Dalam sejarah peradaban Islam, terdapat sejarah kisah penyakit Tho'un, yaitu sejak zaman Rasulullah SAW. Penyakit tho'un terjadi pada beberapa periode, diantaranya pada bulan Ramadhan.

Di dalam kitab al-Isya'ah li Asyrot al-Sa'ah yang ditulis oleh al-'Allamah al-Muhaqqiq Muhammad bin Rasul al-Husaini (1040 H - 1103 H) disebutkan bahwa tho'un  yang paling berbahaya dalam Islam ada lima.

Pertama, Tho'un  Syirawaih, kejadian ini pada masa Nabi Muhammad ﷺ. kedua,  Tho'un  'Amwas pada masa Umar bin Khattab. Ketiga, Tho'un  al-Jarif, terjadi pada Ibnu Zubair. Keempat, Tho'un  Fatayat, terjadi pada tahun 87H. Kelima,Tho'un  al-Asyraf.

Tho'un pernah terjadi pada Ramadlan, yang jika dianalogikan, peristiwa ini sama halnya dengan wabah Corona yang terjadi pada Ramadlan 1441 H. Bahkan akibat dari pandemi yang belum terhenti, terhitung per 5 Ramadhan atau 28 April 2020 pada penanggalan Masehi, akan dilakukan PSBB, Pembatasan Sosial Berskala Besar pada wilayah Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo.

Jika kita kembalikan pada hadist Rasulullah SAW, bahwa wabah penyakit tidak menjadi alasan adanya sikap panik berlebihan dan mudah berpikir su'udzon terhadap sesama manusia yang beresiko terindikasi Covid-19. Sikap sabar seyogyanya dimiliki ketika menghadapi situasi seperti ini, terlebih dapat memperkuat tawakkal pada Allah SWT.

Hadist Imam Bukhari nomor 5443: "Dari Aisyah istri Nabi SAW, sesungguhnya ia bercerita bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai penyakit Tha'un.

Beliau memberitahukan kepadanya, bahwa sesungguhnya penyakit tersebut merupakan siksaan yang diturunkan oleh Allah kepada siapapun yang Dia kehendaki. Namun Allah menjadikannya sebagai Rahmat bagi orang-orang yang beriman. Setiap hamba yang negerinya sedang dilanda wabah Tha'un namun dia tetap bersabar tinggal di dalamnya saja karena dia merasa yakin akan selamat, maka Allah akan mencatat untuknya seperti pahalanya orang yang mati secara syahid".

Hadist tersebut menjadi sebuah penghibur hati bahwa sepelik apapun situasi, maka kita kembalikan sebagai Rahmat Allah SWT. Manusia berada pada titik mengambil hikmah atas semua yang terjadi. Sebagai contoh, hikmah lebih banyak meluangkan waktu bersama keluarga untuk mendidik anak karena pangkal bangunan modal sosial adalah dari didikan keluarga.

Mengenai ikhtiar do'a yang dilakukan untuk melewati sebuah pandemi, hadist Rasulullah SAW juga menjelaskan do'a yang disampaikan Rasulullah SAW pada sahabat Anas tentang do'a meminta kesembuhan.

Pada hadist nomor 5451 Imam Bukhari, dijelaskan do'a tersebut: "Allahumma robbannaasi mudlhibal ba'sisyfi anta asyaafii lama syaafiya illaa anta syifaa'an lama yughoodiru saqomaa", yang artinya, Ya Allah Tuhannya manusia, Dzat yang menghilangkan kesengsaraan, sembuhkan lah. Engkau-lah yang bisa menyembuhkan. Tidak ada yang kuasa menyembuhkan selain Engkau (Allah) kesembuhan yang tidak lagi meninggalkan sakit.

Do'a dan ikhtiar tentunya harus kita yakini sebagai pangkal utama melawan Covid-19. Ikhtiar menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan do'a di dalamnya, tentu jauh lebih indah daripada khawatir, cemas secara berlebihan terhadap penyebaran Covid-19. Bagaimanapun situasi bangsa, membentuk kehidupan sosial dengan menjaga solidaritas sesama dan bergotong royong melawan Covid-19, sejatinya itulah ciri khas bangsa Indonesia.(@.mm)

*) Penulis adalah  Lia Istifhama, Ketua III STAI Taruna Surabaya.

0 komentar:

Posting Komentar